Oleh: Deden Saputra
Dompu, NTB, -- SS --, Ada pemandangan yang belakangan terasa semakin biasa di ruang-ruang publik, anak-anak yang masih mengenakan seragam sekolah duduk santai sambil mengepulkan asap rokok.
Di taman kota, pinggir jalan, warung-warung sekitar lingkungan sekolah, hingga tempat-tempat yang menjadi ruang berkumpul anak muda, pemandangan semacam itu sesekali mudah ditemukan.
Lebih memprihatinkan lagi, ada pelajar yang terlihat merokok sambil mengendarai sepeda motor di jalan raya.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanya persoalan sebatang rokok, Mungkin pula dianggap sebagai kenakalan kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan. Tetapi benarkah sesederhana itu?
Kita selama ini cenderung memahami kenakalan remaja melalui peristiwa-peristiwa yang kasat mata dan gaduh seperti tawuran antar pelajar, perkelahian, balap liar, pengeroyokan, atau aksi vandalisme.
Ketika sekelompok pelajar terlibat tawuran, perhatian publik langsung tertuju, ketika terjadi perkelahian, aparat bergerak, ketika aksi kekerasan dilakukan remaja dan menjadi tontonan di media sosial, orang ramai mengecam.
Namun ada bentuk kenakalan remaja lainnya yang berlangsung jauh lebih sunyi. Tidak ada suara benturan, Tidak ada keributan, Tidak ada korban yang langsung terlihat. Hanya asap rokok yang mengepul dari tangan anak-anak yang seharusnya masih berada dalam lingkungan pendidikan.
Merokok di tempat umum dengan seragam sekolah juga layak dilihat sebagai bagian dari persoalan kenakalan remaja yang perlu mendapatkan perhatian.
Bukan karena sebatang rokok secara otomatis menjadikan seorang anak sebagai pelaku kriminal. Bukan pula karena kita ingin memberikan stigma kepada anak-anak yang terlanjur merokok, persoalannya jauh lebih dalam.
Ada pertanyaan tentang kedisiplinan, pengawasan, lingkungan pergaulan, akses anak terhadap rokok, tanggung jawab keluarga, sekolah, masyarakat, hingga keberanian pemerintah dalam melakukan pencegahan.
Seragam sekolah sesungguhnya bukan hanya pakaian, Ia adalah simbol bahwa seseorang sedang berada dalam proses pendidikan.
Di balik seragam itu ada institusi sekolah, ada guru, ada orang tua, ada harapan keluarga, dan ada masa depan yang sedang dibangun.
Karena itu, ketika seorang pelajar duduk di ruang publik dengan seragam sekolah sambil merokok, persoalannya tidak berhenti pada rokok yang berada di antara kedua jarinya, ada simbol pendidikan yang ikut dipertaruhkan.
Lebih jauh lagi, perilaku tersebut dapat menciptakan persepsi bahwa merokok pada usia sekolah adalah sesuatu yang wajar, lumrah, bahkan dapat dipamerkan di ruang publik.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak, jangan sampai masyarakat baru tersadar ketika kenakalan itu sudah berkembang menjadi perilaku yang lebih serius. Sebab, kenakalan remaja tidak selalu datang dalam bentuk tindakan yang gaduh, kadang ia tumbuh dalam kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus dibiarkan.
Hari ini merokok sembunyi-sembunyi, besok merokok terang-terangan. Hari ini duduk di taman dengan seragam sekolah sambil merokok, besok merasa tidak ada masalah mengendarai sepeda motor sambil merokok.
Dan ketika lingkungan sekitar terus menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa, batas antara perilaku yang pantas dan tidak pantas perlahan menjadi kabur.
Ada kecenderungan kita bergerak setelah masalah menjadi besar, ketika terjadi tawuran, baru kita bicara tentang kenakalan remaja, ketika terjadi perkelahian, baru kita mencari penyebabnya, ketika seorang anak terlibat tindak pidana, baru kita mempertanyakan bagaimana pola asuh keluarga, lingkungan sekolah dan pergaulannya. Padahal, pencegahan seharusnya dimulai jauh sebelum itu.
Merokok di usia sekolah memang bukan satu-satunya indikator bahwa seorang anak akan terjerumus ke dalam perilaku yang lebih buruk. Kita juga tidak boleh menggeneralisasi bahwa setiap anak yang merokok pasti akan menjadi pelaku tawuran atau tindak kriminal.Tetapi kita juga tidak boleh menggunakan alasan tersebut untuk membiarkannya dan sikap yang paling tepat adalah melihat perilaku tersebut sebagai alarm sosial, alarm bahwa ada anak-anak yang membutuhkan perhatian, alarm bahwa pengawasan mungkin belum berjalan maksimal, alarm bahwa keluarga, sekolah, pemerintah dan masyarakat perlu hadir lebih dekat dalam kehidupan anak-anak, sebab anak yang sedang tumbuh tidak hanya membutuhkan larangan, mereka juga membutuhkan pendampingan.
Pertanyaannya, Dari Mana Mereka Mendapatkan Rokok?
Di sinilah persoalan menjadi semakin menarik untuk dibicarakan. Ketika melihat seorang pelajar merokok, pertanyaan kita jangan berhenti pada “Kenapa anak itu merokok?”,
Tetapi juga Bagaimana anak itu bisa mendapatkan rokok?”, "Apakah rokok begitu mudah dibeli oleh anak usia sekolah?
Apakah pedagang masih menjual rokok kepada anak-anak tanpa mempertanyakan usia?
Apakah orang dewasa di sekitar mereka membiarkan?
Apakah orang tua mengetahui kebiasaan tersebut?
Apakah sekolah memiliki mekanisme pembinaan?
Dan apakah pemerintah daerah benar-benar melakukan pengawasan terhadap lingkungan yang berpotensi menjadi tempat anak-anak mengakses rokok?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena menyelesaikan persoalan tidak cukup dengan menyuruh anak berhenti merokok, kita juga harus melihat lingkungan yang memungkinkan kebiasaan itu tumbuh, jika anak bisa dengan mudah mendapatkan rokok, maka ada rantai yang perlu diperiksa.
Jika anak merasa aman merokok di tempat umum dengan mengenakan seragam sekolah, berarti ada persoalan pengawasan yang perlu dibicarakan, dan jika masyarakat melihatnya berkali-kali tetapi memilih diam, maka kita juga harus bertanya apakah kita sedang ikut menormalisasi perilaku tersebut?
Dalam persoalan anak, menyalahkan adalah cara paling mudah, kita bisa menunjuk pelajar dan mengatakan mereka nakal, kita bisa menunjuk orang tua dan mengatakan mereka tidak mengawasi, kita bisa menunjuk sekolah dan mengatakan guru tidak tegas, tetapi persoalan sosial tidak pernah sesederhana itu. Seorang anak tumbuh dari banyak lingkungan, ada rumah, ada sekolah, ada teman sebaya, ada media sosial, ada lingkungan tempat tinggal, ada ruang publik, dan ada masyarakat yang berada di sekelilingnya.
Karena itu, ketika seorang pelajar tertangkap merokok di ruang publik, pendekatan yang dibutuhkan bukan sekadar mempermalukan atau menghukum,Anak perlu dibina, orang tua perlu dilibatkan, Sekolah perlu melakukan pendampingan, pemerintah harus memastikan aturan berjalan, dan masyarakat harus berani mengambil peran.
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita memberikan contoh. Akan sulit meminta anak-anak menjauhi rokok jika orang dewasa di sekeliling mereka justru menganggap rokok sebagai hal biasa.
Akan sulit meminta anak menjaga disiplin jika ruang publik membiarkan perilaku yang melanggar norma dilakukan tanpa teguran.
Kita tidak sedang berbicara tentang perang terhadap anak-anak yang merokok. Kita sedang berbicara tentang bagaimana masyarakat seharusnya memandang masa depan generasi muda.
Anak-anak sekolah hari ini adalah orang-orang yang kelak akan menjadi guru, tenaga kesehatan, birokrat, pengusaha, aparat, pemimpin masyarakat, bahkan pemimpin daerah.
Karena itu, perhatian terhadap kebiasaan kecil mereka hari ini merupakan investasi terhadap kualitas manusia di masa depan.
Jangan menunggu mereka terlibat tawuran untuk kemudian kita menyebutnya kenakalan remaja.
Jangan menunggu terjadi perkelahian untuk kemudian kita mencari siapa yang salah.
Jangan menunggu seorang anak terjerumus lebih jauh untuk kemudian kita sibuk bertanya mengapa tidak ada yang mencegah sejak awal.
Merokok di tempat umum dengan seragam sekolah mungkin terlihat kecil. Tetapi jika terus dibiarkan, ia dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang bergeser dalam cara kita mendidik dan mengawasi anak-anak.
Karena itu, sudah waktunya kita memperluas cara pandang tentang kenakalan remaja. Kenakalan bukan hanya ketika tangan seorang anak mengepal untuk memukul, bukan hanya ketika sekelompok pelajar terlibat tawuran dan bukan hanya ketika jalanan dipenuhi aksi balap liar.
Kenakalan juga dapat hadir dalam bentuk kebiasaan yang perlahan dianggap normal.Termasuk ketika seorang anak masih mengenakan seragam sekolah, duduk santai di ruang publik, lalu menyalakan sebatang rokok tanpa merasa ada yang salah.
Dan mungkin, justru karena terlihat sepele, persoalan itu sering luput dari perhatian. Padahal di balik kepulan asap itu ada pertanyaan besar yang seharusnya dijawab bersama, kemana arah pendidikan dan pengawasan kita terhadap generasi muda, jika anak-anak yang masih mengenakan seragam sekolah sudah merasa begitu bebas merokok di ruang publik?
Pertanyaan itu bukan untuk menyudutkan anak, pertanyaan itu justru ditujukan kepada kita semua. Sebab, membentuk generasi muda bukan hanya tugas sekolah, ia adalah tanggung jawab keluarga, pemerintah, lingkungan dan seluruh masyarakat.
Dan terkadang, menyelamatkan masa depan seorang anak tidak harus dimulai dengan tindakan besar. Bisa jadi, ia cukup dimulai dari keberanian seorang dewasa untuk berkata “Nak, kamu masih sekolah. Matikan rokok itu".

COMMENTS