![]() |
| Foto; Anak-anak Muda Hebat Penari Pacoa Jara Sangaji Padompo |
Dompu, NTB , -- SS --, Kekayaan budaya Kabupaten Dompu kembali mendapat sorotan di tingkat provinsi melalui penampilan Tari Pacoa Jara Sangaji Padompo pada ajang Kemah Budaya dalam rangka memperingati Hari Jadi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Ke - 67 beberapa waktu lalu. Tarian kolosal yang sarat nilai sejarah dan keprajuritan ini berhasil mencuri perhatian publik sekaligus para juri, hingga mengantarkan kontingen Dompu meraih prestasi membanggakan.
Tari Pacoa Jara Sangaji Padompo merupakan karya kolaboratif anak muda bernama Muhamad Ilham, S.Pd dan M. Kaisar Sutomo Ramadhan, S.T., M.T, yang terinspirasi dari tradisi pacuan kuda rakyat Dompu pada masa Kerajaan Ncuhi Padompo. Tarian ini mengangkat kisah Pacoa Jara di sebuah arena pacuan kuda yang pada masa lampau berfungsi sebagai sarana pelatihan dan seleksi calon prajurit kerajaan.
Secara filosofis, tarian ini menggambarkan proses pembentukan karakter prajurit sejak usia dini melalui simbol Juki Jara To’i (joki cilik). Nilai-nilai yang diangkat meliputi keberanian, ketangguhan, sportivitas, serta semangat persaudaraan dalam menjawab konsep adat “Cou Ma Ngau” atau “siapa yang kuat”. Kekuatan yang dimaksud tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mental, disiplin, dan jiwa kepemimpinan.
Penampilan tari Pacoa jara Sangaji Padompo dibawakan oleh lima penari pria berprestasi, Albani Fahreza, Bayu Mardha Tillah, Dafa Rafiqul Islam, Musyawirul Yardan, dan Muhamad Ilham dengan sangat fasih mengikuti derap dan dinamika pacuan kuda, mereka berhasil menghadirkan suasana heroik, tegang, sekaligus megah di atas panggung Kemah Budaya NTB.
Salah satu sorotan penting dari karya ini adalah keberanian menghadirkan penari pria sebagai pelaku utama, yang bahkan disebut sebagai langkah awal munculnya penari pria pertama dari Kabupaten Dompu yang secara konsisten memperkenalkan tari keprajuritan ke ruang publik modern. Menurut pengakuan Ilham yang merupakan salah satu koreografer, awalnya beberapa penari laki-laki sempat ragu untuk bergabung dan berkolaborasi dalam proyek ini.
“Awalnya kami ragu karena selama ini tarian yang berkembang sering diidentikkan dengan gerakan yang seolah seperti kelihatannya, kemayu. Namun setelah memahami maksud dan tujuan tari Pacoa Jara sebagai simbol kekuatan dan ketangguhan prajurit yang diaplikasikan melalui Juki Jara To’i, mereka justru antusias untuk terlibat,” ungkap Ilham.
Menurutnya, Karya yang dibawakan oleh Sanggar Seni Harmony Dana Dompu menjadi bukti ketangguhan komunitas seni lokal dalam menghadapi berbagai tantangan. Di tengah isu kontroversi dan fitnahan dari sejumlah pihak yang secara terbuka tidak menyukai kehadiran karya ini, Sanggar Seni Harmony Dana Dompu justru mampu bangkit dan membuktikan eksistensinya dengan prestasi di tingkat provinsi.
"Kesuksesan penampilan ini tidak lepas dari kerja kolektif tim kreatif, dengan Zul Garden sebagai pembina, Ethnolab Studio sebagai penata musik, A. Bakar sebagai penata busana, serta Ila sebagai penata rias. Dukungan teknis juga diperkuat oleh kru M. Sabilahhak, M. Akshal Mubarak, Muhamad Harun Al Rasyid, dan M. Rafiuddin," urainya.
Lebih dari sekadar ajang lomba, Kemah Budaya Provinsi NTB dinilai memberikan manfaat besar sebagai ruang perjumpaan dan pertukaran budaya antar etnis Sasak, Samawa, dan Mbojo. Kegiatan ini menjadi wadah untuk saling mengenal, mempererat persaudaraan, serta memperluas relasi antar pelaku seni dan budaya di NTB.
Oleh karena itu, para partisipan dari Sanggar Seni dan Budaya Harmony Dana Dompu menyambut kegiatan itu dengan penuh antusias. Mereka berharap ajang serupa terus digelar sebagai ruang strategis dalam menjaga, merawat, dan mempromosikan kekayaan budaya daerah.
Melalui pencapaian ini, Tari Pacoa Jara Sangaji Padompo tidak hanya menjadi simbol kejayaan masa lalu, tetapi juga bukti bahwa seni budaya Dompu mampu tampil berprestasi, berdaya saing, dan relevan di panggung budaya tingkat provinsi, hal ini dibuktikan dengan berhasilnya para penari meraih podium pertama dalam pentas bergengsi tersebut. (*)

COMMENTS